BLOG

[PRESS RELEASE] PRESIDEN BEM LOVEABLE REBORN

Memasuki bulan November, atmosfer PEMIRA semakin terasa. Pemilihan Presiden BEM sudah di depan mata bahkan dalam hitungan beberapa hari ke depan. Melalui questioner yang pernah kami sebar beberapa waktu yang lalu harapannya mampu membuka wawasan kita untuk aktif ikut serta dalam PEMIRA, untuk menyaring beberapa saran dan harapan untuk para calon Presiden kita ini, selain itu untuk melihat sejauh mana antusiasme Mahasiswa itu sendiri.

Dari hasil yang diperoleh, Mahasiswa FK UNS dari ke 5 prodi cukup antusias untuk menyampaikan aspirasi mereka. Mereka yang telah mengisi questioner menyatakan sangat setuju dengan adanya seorang Presiden BEM yang berkualitas karena tak bisa dipungkiri jika mereka menginginkan yang terbaik untuk Fakultas Kedokteran ini ke depannya. Melihat kondisi Fakultas Kedokteran saat ini, telah ada era KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) yang sudah dalam tahap keberjalanan sehingga muncul adanya wacana pergantian istilah “Presiden BEM” menjadi “Presiden Mahasiswa”. Wacana tersebut masih menuai beragam pendapat dari mahasiswa FK itu sendiri namun mayoritas tetap menyatakan setuju.

Seperti yang kita tahu, dalam PEMIRA calon Presiden BEM tahun ini bisa dikatakan hampir sama dengan tahun sebelumnya dimana terdiri dari 3 kandidat calon dan ketiga-tiganya adalah pria. Melihat fenomena ini maka kami tertarik untuk mencari tahu apakah benar jenis kelamin pria dinilai oleh mahasiswa FK lebih berkompeten dalam memimpin sebuah organisasi dibanding dengan wanita. Dan hasilnya sekitar 40 persen responden setuju jika seorang presbem adalah wanita dan lainnya memilih netral ataupun tidak setuju. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa FK tidak mendiskreditkan jenis kelamin wanita dalam pemilihan Presiden BEM ini.

Kembali berbicara mengenai kualitas maka akan erat kaitannya dengan beberapa aspek, menjadi Presiden BEM menurut Mahasiswa FK itu harus memiliki kemampuan akademis yang baik. Bukan karena idealisme yang tinggi namun karena ke depannya akan menjadi sesuatu yang cukup dipertimbangkan dalam keberjalanan setahun kedepan itu dibuktikan dengan 39,7 persen responden menyatakan setuju. Namun tidak hanya dari segi intelektual yang baik namun Mahasiswa FK juga berharap Presiden BEM adalah seseorang yang good looking atau berpenampilan baik dan humoris meskipun ada beberapa menganggap itu bukanlah suatu keharusan itu dibuktikan dengan 36,6 persen respondenmenyatakan setuju. Berbeda terkait dengan Presiden BEM itu harusnya good looking ataupun humoris, di sini mereka menyatakan sangat setuju jika seorang calon Presiden BEM itu harus berwibawa, mempunyai kemampuan public speaking yang bagus, solutif dalam menanggapi segala permasalahan, pandai dalam bernegosiasi, dan yang terpenting paham dan mengerti tentang birokrasi dengan nilai diatas 65 persen. Dengan kesemua kriteria tersebut, mereka juga berharap banyak kepada calon Presiden BEM FK UNS ini untuk selalu memiliki citra baik di seluruh Fakultas dan sekitarnya, terlebih jika Presiden BEM mau turun ke semua elemen kampus.

Banyak kriteria Presiden BEM yang diharapkan Mahasiswa FK, terlebih jika diimplementasikan kepada para tokoh pemimpin saat ini. Ternyata mereka lebih memilih sosok seperti Ridwan Kamil yang humoris dan gaul tanpa meninggalkan kualitasnya sebagai pemimpin dengan 50,4 persen responden. Kemudian disusul urutan kedua, yaitu sosok seperti Anis Baswedan, kalem dan penuh wibawa.

Namun sangat disayangkan antusiasme Mahasiswa FK yang ikut berpartisipasi dalam pemilihan presiden ini masih belum tinggi dilihat dari tanggapan dalam questioner yang telah disebar beberapa waktu yang lalu. Harapannya animo Mahasiswa FK lebih tinggi pada saat pemilihan nanti dilihat berkurangnya jumlah pemilih golput.

Dan yang terpenting adalah siapapun Presiden BEM yang terpilih nantinya kita bisa menyadari jika tidak ada orang yang sempurna. Mari kita sebagai Mahasiswa FK UNS bersama-sama mencintai dan menerima dengan lapang dada siapapun yang akan terpilih nantinya. Karena menjadi dicintai atau tidak dicintai hanyalah tergantung dari bagaimana kita bisa merubah sudut pandang kita.

Kementerian Kajian Strategis
BEM FK UNS

Post a comment